Penerapan Aplikasi Bordir Bermotif Naga dan Burung Phoenix pada Crinoline Gaun Choengsam
Abstract
Issues of cultural acculturation have existed since the 15th and 16th centuries, precisely during the colonial period and royal power in Indonesia. The change and transition of royal power and colonial power had an impact on the mixing of indigenous cultures, Chinese, Portuguese, Dutch, and Japanese, which then formed an eclectic Indonesian culture. In the northern coastal areas of Java Island, such as Cirebon, Semarang, and Surabaya, many residents of Chinese descent have settled until now. This affects the creativity and diversity of Indonesian people's fashion patterns. This study aims to describe the process of applying dragon and phoenix embroidery to cheongsam crinoline dresses. This research uses a method of creating works consisting of four stages, namely the pre-design stage, the design stage, the realization stage, and the presentation stage. The instruments in the implementation of this research include consideration of materials, techniques, ideas, concepts, and aesthetics of shapes, which can then be referred to as literacy elements in the design of fashion works. The idea of this research is taken from several sources of inspiration in the form of similar forms of clothing that have existed before by raising similar concepts that are modified in fashion forms, ornaments, and color compositions. The visual literacy of cheongsam dresses reflects an understanding of design elements such as motifs, color compositions, techniques, and cultural symbolism, which together create aesthetic and meaning-rich fashion works.
ABSTRAK
Isu-isu akulturasi budaya sudah ada sejak abad ke-15 hingga ke-16, tepatnya pada masa penjajahan dan kekuasaan kerajaan di Indonesia. Pergantian dan peralihan kekuasaan kerajaan serta kekuasaan penjajah berdampak pada percampuran budaya pribumi, China, Portugis, Belanda, dan Jepang, yang kemudian membentuk kebudayaan eklektik Indonesia. Di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, seperti Cirebon, Semarang, dan Surabaya, banyak penduduk keturunan Tionghoa yang menetap hingga sekarang. Hal ini berpengaruh terhadap pola kreativitas dan keragaman busana masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penerapan aplikasi bordir bermotif naga dan burung phoenix pada gaun crinoline cheongsam. Penelitian ini menggunakan metode penciptaan karya yang terdiri dari empat tahap, yaitu tahap pra-perancangan, tahap perancangan, tahap perwujudan, dan tahap penyajian. Instrumen dalam pelaksanaan penelitian ini mencakup pertimbangan bahan, teknik, ide, konsep, dan estetika bentuk, yang kemudian dapat disebut sebagai unsur literasi dalam perancangan karya busana. Ide penelitian ini diambil dari beberapa sumber inspirasi berupa bentuk busana sejenis yang telah ada sebelumnya, dengan mengangkat konsep serupa yang dimodifikasi pada bentuk busana, ornamen, dan komposisi warna. Literasi visual pada gaun cheongsam mencerminkan pemahaman tentang elemen desain seperti motif, komposisi warna, teknik, dan simbolisme budaya, yang secara bersama-sama menciptakan karya busana yang estetis dan kaya akan makna.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Arbiansyah, N. (2022) Gaya Busana Cheongsam Dalam Fotografi Fashion Editorial. Diploma Thesis, Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta.
Arsyad, A. dkk. (2016). Pengaruh Ketebalan Kain Duchess Terhadap Hasil Jadi Kanzashi pada Aksesoris Jilbab Pesta. Jurnal Online Tata Busana, 5(1). https://doi.org/10.26740/jurnal-online-tata-busana.v5i1.14033
Azmi, A. dkk. (2024). Pembuatan Cheongsam Dress Dengan Teknik Draping. Dalam Jurnal Penelitian Busana & Desain, Vol.4 No. 1.
Bilqis, J, & Arifiana, D. (2023). Pembuatan Dress Korset Cheongsam Era Renaissance Dengan Aplikasi Bordir 3D. BAJU: Journal of Fashion and Textile Design Unesa, 4(2), 162-170. https://doi.org/10.26740/baju.v4n2.p162-170
Ekawati, D., & Yulistiana, Y. (2020). Penerapan Teknik Aplikasi Motif
Vertisol Pada Busana Pesta Malam. Baju: Journal Of Fashion And Textile Design Unesa, 1(1), 48-56. Https://Doi.Org/10.26740/Baju.V1n1.P48-56
Fiaunillah, W., & Sakti, A. (2022). Penerapan Crinoline sebagai Garnitur pada Busana Pesta Malam Model Strapless. BAJU: Journal of Fashion and Textile Design Unesa, 3(2), 96-102. https://doi.org/10.26740/baju.v3n2.p96-102
Grace Choong Ai May. (2008). Corak Dan Motif Porselin Famille Rose. Wancana Seni Journal Of Arts Discourse, Jil.Vol.7
Hardisurya. Mardiana P. & Jusuf, H. 2009. Kamus Mode Indonesia.Jakarta: Buku Kompas.
Hendriyana, H. (2018). Metodologi Penelitian Penciptaan Karya. Bandung: Penerbit Sunan Ambu Press. ISBN: 978-979.
Hock, L dan Ismail S. (2012). Ikonografi Motif Pada Komponen ukiran Kayu didalam Tokong Cina. laman sesawang Lim Lee Hock, dicapai 7 April 2012, http//asiaa.geocities.com,isaid04652/Fulltext010.html, 7
Hoon, C. (2008). Chinese Indonesians: Changing Identities, Disrupting the Boundaries. Asia Pacific Journal of Anthropology.
Ismail, S. Dkk. (2024). Penggunaan Motif Dan Ornamentasi Cina Dalam Pembinaan Rumah Warisan: Kajian Ke Atas Rumah Demang Abdul Ghani. Journal Of Tourism, Hospitality And Environment Management (Jthem), 9(36). Retrieved From https://gaexcellence.com/index.php/jthem/article/view/474
https://doi.org/10.35631/JTHEM.936009
Jasmine, A., & Marniati, M. (2020). Penerapan Crinoline Sebagai Bahan Pelapis Dalam (Interfacing) Pada Rok Busana Pesta Bertema Fluffy. Dalam Journal Of Fashion And Textile Design Unesa, Vol. 1 No. 2 2020.
https://doi.org/10.26740/baju.v1n2.p99-107
Kustedja, S. dkk. (2013). Makna Ikon Naga, long 龙, 龍 Elemen Utama Arsitektur Tradisional Tionghoa. Dalam Jurnal Sosioteknologi Edisi 30
Martin, Richard And Koda, Harold (1993). Infra Apparel. New York: Metropolitan Museum Of Art Publication.
Moedjiono (2011) Ragam Hias Dan Warna Sebagai Simbol Dalam Arsitektur Cina. Jurnal Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Undip, 11 (1). ISSN 0853 2877
Mulyono, G dan Thamrin, D. (2019). Makna Ragam Hias pada Klenteng Kwan Sing Bio di Tuban. 22 juli 2019 https://repository.petra.ac.id/id/eprint/15464
Nathania, P., & Gondoputranto, O. (2023). Pengaruh Akulturasi Budaya Terhadap Tren Busana Cheongsam Untuk Acara Sangjit Pada Masyarakat Modern. Dalam Jurnal Of Fashion Product Design & Business, Vol. 3 No. 2 2022.
Penganti, S. (2016). Motif Burung Phoenix pada Busana Pesta. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Poespo, G. (2005). Panduan Membuat Ragam Hias Motif Bordir Serta Penerapanya Pada Busana Wanita & Pria. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Ricklefs, M. C. (2001). A History of Modern Indonesia Since c. 1300. Stanford University Press.
Sofariah, N.Y., & Maeliah M. (2022). Penerapan Aplikasi Bordir Pada Busana Pesta. Dalam Jurnal Teknologi Busana Dan Boga, Vol.10 No. 1
https://doi.org/10.15294/teknobuga.v10i1.24798
Satlberg, R,. & Nesi,R. (1983). A Mini-Encyclopedia of Chinese Crafts, Singapore: Tomes Books International.
Satria, Randy Pratama. (2012). Burung Phoenix .Diakses 2 Febuari 2017. dari http://www.gudangburung.com/2012/ 02/burung-phoenix.html
Sukanto, S. (2012). Busana Tradisional Indonesia: Kesenian dan Kreativitas dalam Busana. Penerbit Mizan.
Sutherland, H. (2008). The Chinese in Indonesia: Historical Perspectives. Springer.
Wulandari, F. dkk. (2023). Pengembangan Busana Bersiluet H Dengan Hiasan 3d. Jurnal Da Moda, 4(2), 73-82. https://doi.org/10.35886/damoda.v4i2.524
Refbacks
- There are currently no refbacks.





